Kampoong Hening

SUDAH SAATNYA TERBEBAS TOXIC RELATIONSHIP !!

Sedang ramai diperbincangan soal serial film ‘Layangan Putus’ yang dibintangi Reza Rahardian. Tokoh Kinan yang diperankan Putri Marino mengalami Toxic Relationship yang sebenarnya dia sudah tahu pasangannya buruk untuk dirinya. Tahu bahwa berada di tempat yang harusnya  lebih baik. Si tokoh Kinan  masih bergulat dengan kecemasan, kesedihan,  kemarahan. Pada dasarnya hubungan toxic dapat membunuh karakter kita.

Toxic Relationship dapat memicu perasaan tidak layak, tidak berdaya, takut, kecemasan, depresi, ketidakamanan, paranoia dan rasa malu. Dan, jika itu adalah pengalaman toksisitas, melucuti dari ketidakbersalahan. Hal ini dapat membuat Anda sinis dan takut cinta. Tapi bekas luka itu bisa, dan akan, sembuh. Karena, ketika (dan hanya ketika)  siap, akan menyelam untuk mendidik diri sendiri tentang apa yang terjadi. Kenali hal hal yang berkaitan dengan toxic ralationship

 

  1. Ruang gerak dibatasi

Sewajarnya manusia dalam bersosialisasi kita memiliki teman, sahabat, keluarga bahkan kolega lainnya. Dalam ranah toxic relationship kita dibatasi untuk berteman dengan si A atau bahkan bersahabat dengan si B. Jika hal ini sudah dirasakan namun masih ada jalan untuk dikomunikasikan.

  1. Ribut dengan hal – hal kecil

Permasalahan didalam hubungan seringkali terjadi dengan meributkan hal – hal yang sepele seperti telat membalas chat, atau bahkan larangan untuk membalas chat teman, hingga banyak orangyang kecewa karena sulit dihubungi.

Mengapa Toxic Relationship bisa terjadi ?

  1. Kurangnya kehadiran figur ayah bagi anak perempuan. Pola hubungan dengan sosok ayah menjadi role model pertama bagi anak perempuannya dalam mencari pasangan. Jika di dalam role model tersebut sosok anak perempuan tidak mendapatkan kasih sayang untuk ‘mengisi’ ruang jiwanya maka ia akan mencari peran ayah yang selama ini tidak diperoleh. Hal ini sering terjadi pada anak – anak yang broken home ata bahkan anak perempuan yang sudah lama tidak mendapatkan kehadiran Ayah. Tidak dipungkiri jika anak yang memiliki orang tua lengkap namun kurang akan kasih sayang, ia akan mencari tempat yang tepat untuk memenuhi kebutuhan kasih sayangnya.
  2. Kepercayaan diri yang rendah. Seseorang yang memiliki kepercayaan diri yang redah ada kemungkinan “standar pemilihan pasangan” yang rendah juga, sebab “We accept the love we think we deserve”. Selain itu juga, seringkali mengabaikan red flags yang ada dalam hubungan, karena berpikir tidak ada lagi yang mau menerima dirinya.
  3. Kurang mengenal diri. Penting untuk mengenal diri sendiri atas apa yang dia suka dan tidak suka, kebutuhan, keinginan, dan batasan yang dimiliki. Hal ini akan menjadi standar sejauh mana sikap pasangan yang masih bisa toleransi dan tidak. Sebab terkadang seseorang yang tidak mengenal diri justru mengikuti alur yang dibuat oleh pasangannya dan dengan mudahnya abai dengan kebutuhan sendiri. Pentingnya mengenal diri bisa didapatkan dengan mengikuti program- program kampoong hening.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Scroll to Top