Kampoong Hening

Jangan-jangan Kamu Tidak Menyadari Bahwa Kamu Terjebak dalam Toxic Positivity

Pernah nggak sih, kamu lagi punya masalah dan curhat ke temen, terus respon dia, “Kamu pasti bisa melewatinya! Lagian masalahnya gitu doang, masih banyak yang hidupnya lebih berat daripada kamu!” Lalu akhirnya kamu setuju dengan apa yang dia ucapkan. Kamu menyangkal perasaan sedih dan gundah yang kamu miliki karena kamu berpikir bahwa kamu terlalu lemah dan baper. Kamu berpikir bahwa kamu seharusnya selalu berpikir positif tentang kehidupan yang kamu jalani. Wah, nggak salah lagi. Kamu terjerat toxic positivity!

 

Toxic Positivity adalah sebuah pola pikir yang menganggap seberat apapun masalah yang dialami, bersikap dan berpikiran positif adalah hal mutlak yang harus dilakukan. Memang benar bersikap positif dalam hidup bisa memberikan manfaat baik untuk kesehatan mental. Namun dalam praktek toxic positivity, menunjukkan emosi negatif adalah hal yang terlarang, padahal hidup tak selalu memberikan madu kepada kamu, sering juga lemon yang kecut dan pahit.

Bentuk tindakan dari toxic positivity ini memang terkadang sulit dikenali. Hal ini dikarenakan orang yang terjebak dalam toxic positivity tidak menyadari bahwa dirinya tengah memberikan racun dan bisa merusak kesehatan mental. Berikut ciri-ciri toxic positivity untuk kamu pahami:

  1. Menyangkal emosi negatif yang tengah dirasakan
  2. Menutupi perasaan yang kurang menyenangkan karena tidak mau menimbulkan masalah
  3. Menghindar dari masalah daripada menghadapi penjelasannya
  4. Merasa tidak enak pada orang lain saat ingin mengungkapkan emosi negatifnya

 

Setelah mengetahui ciri-cirinya, coba ingat-ingat lagi, jangan-jangan selama ini kamu sering bersikap toxic positivity meskipun tanpa kamu sadari? Sebaiknya kamu belajar untuk perlahan-lahan mengurangi sikap tersebut ya. Memangnya kenapa sih kok toxic positivity harus dihindari? Karena toxic positivity berdampak buruk pada kesehatan mental. Nih, aku kasih tahu alasannya:

  1. Membuatmu merasa malu

Ketika mendapatkan masalah, kita pasti merasakan gelombang emosi negatif dalam diri. Sebenarnya kita bisa menunjukkan emosi tersebut atau bahkan menceritakan permasalahan yang tengah kita hadapi pada orang-orang terdekat. Namun dalam mindset toxic positivity, kita jadi merasa malu jika menunjukkan emosi negatif kepada mereka. Sebenarnya kita sangat ingin menangis, namun karena malu, kita jadi menahannya. Hingga pada akhirnya emosi ini menumpuk tak tertahankan.

 

  1. Membuatmu merasa bersalah

Orang-orang selalu mengatakan bahwa kita harus tetap bersyukur di setiap keadaan. Yang artinya kita harus selalu berpikiran dan bersikap positif. Katanya, kebahagiaan adalah sebuah pilihan. Maka jika kita tidak merasa bahagia padahal memang tengah dihantam duka, maka itu adalah salah kita sendiri. Inilah yang terjadi dalam toxic positivity.

 

  1. Menghambatmu untuk bertumbuh

Dalam setiap ujian hidup, tentu kita akan menghadapi cobaan yang berbeda-beda. Emosi yang kita rasakan juga berbeda-beda. Entah itu sedih, kecewa, terluka, dan sebagainya. Dengan berjalannya waktu, kita akan bertumbuh dari luka-luka tersebut. Kita juga jadi bisa mengenali emosi-emosi tersebut dan tahu bagaimana cara mengatasinya. Namun jika kita terjebak dalam toxic positivity, maka kita akan dipaksa untuk selalu berpikiran positif di setiap ujian. Hal tersebut akan menghambat kita untuk bertumbuh.

 

  1. Bisa membuatmu meledak

Orang yang terjebak dalam toxic positivity akan selalu menahan emosi negatif yang mereka rasakan. Emosi-emosi negatif yang tidak teratasi dengan baik tersebut menumpuk dan saat trigger yang tepat muncul, maka semua emosi negatif tersebut akan membuatmu meledak.

 

Setelah mengetahui dampak negatif dari toxic positivity, tentunya kamu ingin mengurangi kebiasaan buruk tersebut bukan? Jangan khawatir, di bawah ini ada beberapa tips yang bisa kamu praktekkan untuk mengurangi sikap toxic positivity tersebut.

  1. Kelola emosi negatif yang kamu rasakan tetapi jangan menyangkalnya

Ketika menghadapi masalah, wajar jika merasakan emosi negatif. Yang harus kamu lakukan adalah mengelolanya dengan baik. Temukan cara terbaik untuk menyelesaikannya. Jangan pernah menyangkal emosi negatif yang kamu rasakan, apalagi menumpuknya.

 

  1. Pahami apa yang kamu rasakan

Cobalah untuk memahami emosi negatif yang kamu rasakan. Dari mana emosi tersebut datang, bagaimana efek dari emosi negatif tersebut, dan bagaimana kamu menyelesaikannya. Hal ini bisa kamu jadikan sebagai pelajaran jika di masa selanjutnya kamu mengalami emosi negatif tersebut lagi.

 

  1. Fokuslah pada mereka yang benar-benar mendukung kamu

Fokuslah pada orang-orang terdekat yang selalu mendukung kamu. Mereka yang mengatakan bahwa emosi negatif yang kamu rasakan adalah valid. Mereka yang tidak menyalahkan kamu karena kamu menangis atau kecewa ketika keadaan memang membuatmu terluka.

 

Toxic positivity memang mulai disadari oleh masyarakat kita. Meskipun pada prakteknya masih banyak yang kurang memahami bahwa apa yang mereka lakukan termasuk dalam toxic positivity. Mungkin kamu bisa mencoba bergabung di program Be Happy Counselor yang diadakan oleh Kampoong Hening. Di sana kamu bisa belajar menjadi seorang konselor psikologi yang mungkin saja ilmu yang kamu dapat bisa membantu banyak orang di sekitarmu. Terutama mereka yang masih terjebak dalam toxic positivity dan belum menyadarinya.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Scroll to Top