Kampoong Hening

Fobia Bukan Bahan Untuk Bercanda

Suatu ketika, saya sedang santai dan menonton acara hiburan di televisi. Lalu sebuah segmen dalam acara tersebut cukup membuat saya marah-marah karena menunjukkan beberapa pengisi acara yang sedang menggoda temannya dengan memaksanya memegang seikat rambutan, di mana seorang tersebut ternyata memiliki fobia terhadap rambutan. Lalu saya juga sempat melihat dengan mata kepala saya sendiri ketika seseorang yang fobia terhadap kucing malah dengan sengaja ditakut-takuti dengan mendekatkan kucing kepadanya. Kenapa sih orang-orang suka sekali bercanda dengan rasa takut orang lain? Fobia bukan bahan untuk bercanda.

Fobia adalah rasa takut yang berlebihan terhadap suatu hal. Fobia bisa menyebabkan penderitanya mengalami kecemasan, depresi, hingga kepanikan parah. Penyebab fobia bisa disebabkan oleh banyak hal. Namun, jika berdasarkan jenis ketakutan yang timbul, maka fobia bisa dikategorikan menjadi dua, yaitu fobia spesifik dan fobia kompleks.

 

  1. Fobia spesifik

Fobia ini umumnya dialami sejak anak-anak atau remaja. Ketakutan yang muncul biasanya spesifik pada objek tertentu, misalnya hewan (ular atau laba-laba), takut terhadap jarum suntik, takut terhadap ketinggian, ataupun takut berkunjung ke dokter.

 

  1. Fobia kompleks

Fobia kompleks muncul saat penderitanya berusia dewasa. Biasanya mereka akan mengalami ketakutan atau kecemasan pada situasi tertentu. Fobia kompleks bisa dibagi menjadi dua jenis, yaitu:

  • Agoraphobia

Fobia ini membuat penderitanya merasa terkurung dalam situasi yang ramai dan tidak bisa kabur dari sana. Untuk menghindari perasaan panik atau cemas itu muncul, mereka akan menghindari tempat-tempat yang bisa memancing fobianya muncul, misalnya menghindari naik kendaraan umum, tidak pergi ke pasar ataupun restoran.

 

  • Fobia sosial

Fobia sosial membuat penderitanya merasa cemas ketika berada di lingkungan sosial. Mereka merasa takut dipermalukan atau mempermalukan diri sendiri jika melakukan kesalahan. Tentu saja jenis fobia ini sangat mengganggu kehidupan sosial bahkan karir penderitanya karena bisa menghambat perkembangannya.

 

Faktor risiko fobia

 

Ada beberapa hal yang bisa menjadi faktor risiko munculnya fobia, yaitu:

  1. Mengalami insiden yang traumatik, misalnya pernah dicakar kucing hingga berdarah yang mengakibatkan fobia pada kucing.
  2. Riwayat keluarga yang juga mengalami fobia
  3. Menderita gangguan mental, seperti skizofrenia, depresi, dan PTSD.
  4. Mengalami stress yang terus-menerus dan tidak ditangani dengan baik. Hal ini bisa mengakibatkan penurunan kemampuan seseorang untuk mengendalikan rasa takutnya.

 

Gejala fobia

 

Fobia memang membuat penderitanya mengalami ketakutan dan kecemasan yang luar biasa ketika terpancing. Namun fobia juga bisa disertai dengan gejala berikut ini:

  1. Sesak napas
  2. Jantung berdebar kencang
  3. Mual
  4. Nyeri dada
  5. Leher terasa seperti tercekik
  6. Berkeringat dan gemetar
  7. Mulut terasa kering
  8. Rasa ingin buang air kecil terus-menerus

 

Komplikasi fobia

Fobia yang tidak ditangani dengan baik tentu saja merugikan penderitanya. Di antaranya:

  1. Isolasi sosial di mana penderitanya menghindari lingkungan umum karena takut akan terpancing dengan apa yang menjadi fobianya
  2. Gangguan mood, seperti serangan panik, gangguan kecemasan atau depresi
  3. Penyalahan obat-obatan terlarang dan alkohol
  4. Bunuh diri karena tidak tahan dengan fobianya

 

Jika kamu merasakan hal-hal yang tertulis di atas, sebaiknya kamu segera pergi ke dokter untuk memeriksakan diri dan mendapatkan bantuan. Jangan pernah meremehkan fobia dan membuatnya sebagai bahan bercandaan, karena efeknya bisa membuat penderitanya ingin melakukan bunuh diri. Untuk kamu yang ingin membantu orang-orang yang memiliki fobia tersebut, mungkin kamu bisa mulai membantu diri kamu terlebih dahulu dengan membekali ilmu terkait. Kamu bisa ikut program Be Happy Counselor yang diinisiasi oleh Kampoong Hening. 

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Scroll to Top